Salah satu penyebab naskah penelitian kesehatan ditolak di pemeriksaan awal adalah hal yang sebenarnya sepele, yaitu tidak ada keterangan lolos kaji etik. Penelitiannya bagus, datanya rapi, tapi editor tidak bisa meneruskannya karena melibatkan manusia tanpa bukti persetujuan etik.
Mengurusnya tidak sesulit yang dibayangkan, asal tahu urutannya.
Kapan penelitian wajib punya ethical clearance
Secara umum, kaji etik diperlukan ketika penelitian melibatkan manusia sebagai subjek, baik secara langsung maupun lewat data pribadinya.
Ini mencakup penelitian yang mengambil data lewat wawancara, kuesioner, atau observasi langsung pada pasien. Juga penelitian yang memberikan perlakuan apa pun, termasuk edukasi kesehatan dan latihan fisik. Termasuk pula penelitian yang menggunakan rekam medis, meskipun pasiennya tidak ditemui.
Yang umumnya tidak memerlukan kaji etik adalah telaah literatur murni dan analisis data agregat yang sudah dipublikasikan tanpa identitas individu. Meski begitu, sebagian jurnal tetap meminta pernyataan tertulis soal ini, jadi baca dulu ketentuan jurnal tujuanmu.
Ke mana mengajukannya
Pengajuan dilakukan ke Komisi Etik Penelitian Kesehatan, yang biasanya ada di institusi pendidikan tinggi kesehatan atau di rumah sakit. Kalau kampusmu punya komisi etik sendiri, ajukan di sana karena prosesnya lebih cepat dan biayanya lebih ringan.
Kalau penelitianmu dilakukan di rumah sakit, sering kali dibutuhkan dua lapis, yaitu kaji etik dari komisi kampus ditambah izin penelitian dari rumah sakit tersebut. Tanyakan sejak awal supaya tidak bolak-balik.
Dokumen yang perlu disiapkan
Berkas yang diminta berbeda sedikit antarinstitusi, tapi intinya mirip.
Protokol penelitian lengkap, memuat latar belakang, tujuan, desain, populasi dan sampel, instrumen, serta cara analisis. Lembar informasi untuk calon responden, ditulis dengan bahasa awam, bukan bahasa akademik. Lembar persetujuan setelah penjelasan, yang ditandatangani responden. Instrumen penelitian, baik kuesioner maupun panduan wawancara. Daftar riwayat hidup peneliti. Surat pengantar dari institusi. Dan untuk sebagian komisi, ditambah surat pernyataan tidak ada konflik kepentingan.
Lembar informasi inilah yang paling sering dikembalikan untuk diperbaiki, karena ditulis terlalu teknis sehingga calon responden tidak akan benar-benar paham apa yang disetujuinya.
Yang dinilai komisi etik
Penilaian umumnya bertumpu pada prinsip yang sudah lama jadi acuan internasional, mengacu pada kaidah yang dirumuskan dalam pedoman etik penelitian kesehatan yang diterbitkan organisasi seperti WHO.
Intinya ada pada beberapa hal. Apakah penelitian ini punya nilai sosial dan ilmiah yang jelas. Apakah desainnya cukup kuat untuk menjawab pertanyaannya. Apakah pemilihan subjek adil dan tidak membebani kelompok rentan secara berlebihan. Apakah rasio manfaat terhadap risikonya masuk akal. Apakah ada mekanisme telaah independen. Apakah persetujuan benar-benar diberikan secara sukarela dan dengan pemahaman penuh. Dan apakah kerahasiaan data subjek terjaga.
Pertanyaan terakhir itu yang paling sering jadi catatan, terutama pada penelitian yang memakai rekam medis.
Perkiraan waktu
Kalau berkasnya lengkap dan protokolnya jelas, proses umumnya memakan dua sampai enam minggu. Yang membuat lama biasanya revisi berulang pada lembar informasi dan instrumen. Siapkan berkas dengan teliti di awal, karena satu putaran revisi bisa menambah dua minggu.
Setelah keterangan etik terbit
Simpan nomor dan tanggalnya, karena keduanya harus dicantumkan di bagian metode artikelmu nanti. Banyak jurnal meminta nomor itu ditulis eksplisit, bukan sekadar pernyataan bahwa penelitian sudah lolos kaji etik.
Langkah berikutnya adalah menentukan jurnal tujuan sejak dini, bukan setelah data selesai dikumpulkan. Jurnal yang berbeda punya ketentuan pelaporan etik yang berbeda, dan mengetahuinya lebih awal menghemat banyak penyesuaian. Pilihan jurnal beserta penerbit dan status akreditasinya bisa dilihat di jurnal SINTA 2 keperawatan.